Biografi Pahlawan Pejuang Emansipasi Wanita, R.A. Kartini

Biografi Pahlawan Pejuang Emansipasi Wanita, R.A. Kartini R.A Kartini - Habis Gelam Terbitlah Terang (ilustrasi/freepik)

News.Diwarta.com – Dahulu jauh sebelum Indonesia merdeka, keberadaan wanita kerap tidak dihargai. Wanita hanya diperbolehkan mengurus urusan dapur dan anak tanpa harus mengenyam pendidikan yang layak. Namun berbeda dengan Kartini atau yang memiliki nama lengkap Raden Adjeng Kartini. Karena berasal dari latarbelakang keluarga bangsawan jawa, maka Kartini mendapatkan pendidikan yang layak. Biografi Kartini sangat menarik untuk dibaca dan dipelajari karena dengan perjuangannya wanita ditanah air pada jaman modern dapat memiliki kesetaraan dengan Pria.

Kartini kecil mendapatkan kesempatan bersekolah di ELS (Europes Lagere School), salah satu sekolah Belanda sampai usianya 12 tahun. Kartini tidak dapat mengeyam pendidikan selanjutnya karena menurut tradisi jawa, Kartini harus menjalani tradisi pingit. Pada masa tersebut, mulai usia 12 tahun wanita ketutunan jawa harus berdiam atau tinggal dirumah sampai nanti menikah. Lebih detail tentang RA. Kartini, simak ulasan Biografi Kartini dibawah ini.

Raden Adjeng Kartini atau yang biasa disebut R.A Kartini lahir di Jepara tanggal 21 April 1984. Beliau lahir ditengah keluarga bangsawan jawa yang saat itu ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah seorang Wedana (Kepala Wilayah Administrasi Kepemerintahan). Ibunya bernama Ngasirah merupakan anak dari seorang guru agama di Jepada dan bukan dari keluarga bangsawan. Oleh karena itu meskipun ibunya adalah istri pertama, namun Ayahnya menikah lagi dengan seorang putri bangsawan yaitu Raden Adjeng Woerjan yang merupakan keturunan raja Madura. Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 orang bersaudara (kandung dan tiri). Saat bersekolah di ELS, Kartini belajar bahasa Belanda sehingga beliau dapat berkomunikasi dengan bahasa Belanda baik secara lisan maupun tulisan.

Profile R.A Kartini – Setelah Kartini tidak bersekolah, di rumah Kartini tetap mengasah kemampuannya berbahasa Belanda dengan banyak membaca buku, surat kabar dan majalah. Pada jaman itu informasi dunia luar di tanah air sangatlah sulit untuk didapatkan. Kartini juga sering menulis atau bersurat dengan teman korespondensinya di Belanda sehingga mendapatkan banyak pengetahuan dan dapat bertukar pikiran dengan temannya yang ada di Belanda. Kartini mulai tertarik dengan cara berfikir wanita-wanita dari Eropa yang cenderung lebih maju dan bebas. Akhirnya berbekal pengetahuan dan ketrampilannya menulis dalam bahasa Belanda, Kartini memberanikan diri menuangkan pemikirannya dan berhasil dimuat oleh majalah perempuan Belanda, De Hoandsche Leile.

12 November 1903, saat usianya menginjak 24 Tahun Kartini dipersunting oleh Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang telah memiliki 3 orang istri. Namun status sebagai istri tidak menyurutkan Kartini untuk menggapai cita-citanya yaitu menjadi seorang guru dan mendirikan sekolah khusus wanita. Sang suami mendukung penuh keinginan Kartini dan memberikan kebebasan baginya. Satu Sekolah wanita telah berhasil didirikan di daerah Rambang. Setelah usia pernikahannya menginjak satu tahun, Kartini dianugerahi seorang anak laki0laki bernama Soesalit Djojoadhiningrat. Namun malang, setalah 4 hari melahirkan Kartini menghembuskan nafas terakhirnya. RA Kartini meninggal pada 17 September 1904 dalam usia 25 tahun. Beliau dimakamkan di Rembang, Jawa Tengah.

Pemikiran Kartini yang ditulis melalui surat-suratnya telah mengubah pandangan Belanda terhadap perempuan Jawa. Tulisannya dikumpulkan dan dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht atau habis gelap terbitlah terang. Kartini merupakan tokoh inspiratif di Indonesia yang juga berhasil mengguncang dunia. Di Belanda, nama Kartini diabadikan menjadi salah satu nama jalan di kota Amsterdam. Di tanah air hari kelahiran Kartini, 21 April diperingati sebagai hari Kartini.
Demikian sekilas Biografi R. A. Kartini, semoga menjadikan inspirasi bagi semua.